Jumat, 19 Oktober 2012

RITUAL PENDEWASAAN DIRI DALAM TRADISI SUKU DAYAK WEHEA


Disarikan dari buku Nemlen: Sebuah Prosesi Kepala Dari Suku Dayak Wehea
Karya Ledjie Taq - Kepala Adat Wehea Nehas Liah Bing
Upacara adat Nemlen, merupakan tradisi Suku Dayak Wehea di Kecamatan Muara Wehea (Wahau) Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur yang hampir sirna, karena bahan/media ritualnya adalah tengkorak sangat sulit diperoleh disamping karena kurangnya minat masyarakat terhadap upacara ini.
Pada jaman dahulu, Nemlen dilaksanakan lebih kurang 6 tahun sekali, tergantung dengan situasi dan kondisi setempat.
Nemlen harus memakai tengkorak (kepala manusia) yang mati berdarah atau dibunuh dengan senjata seperti senapan, parang, keris, mendau, tombak dan lain-lain.
Satu tengkorak manusia hanya boleh dipakai dalam sekali Nemlen, tetapi pada akhir-akhir ini, atau semenjak dekade 1980-an, satu tengkorak dapat dipakai untuk lebih dari satu kali Nemlen, yaitu tengkorak dibelah (dibagi) menjadi beberapa bagian, dimana sebagian tengkorak yang telah dibagi dipakai untuk Nemlen dan sebagian lain disimpan untuk dipergunakan lagi pada saat pelaksanaan Nemlen berikutnya.
1. Sejarah Nemlen
Berdasarkan sejarahnya, budaya Nemlen berasal dari Delai (Dewa/Guru) yang diajarkan kepada Bitwea, seorang bangsa manusia sejak zaman dahulu dan berlanjut hingga sekarang, walaupun pada saat ini sudah mulai memudar.
a. Membuat perahu
Pada suatu hari, Bitwea pergi ke hutan untuk membuat perahu. dan dia menemukan kayu yang cocok untuk bahan perahu, kemudian dia menebang kayu tersebut. Setelah kayu rebah, dia mulai mengukur panjang kayu yang sesuai dengan keinginannya, lalu memotong bagian pangkal dan ujung kayu tersebut. Kemudian dia mulai memancung atau meruncingkan masing-masing ujungnya sesuai dengan gambaran perahu yang akan dibuat sebelum dibelah menjadi dua bagian.
Setelah semuanya siap, dia mulai membuat lobang atau paritnya dari bagian pangkal sampai ujungnya untuk membelahnya menjadi dua bagian.
b. Perkenalan dengan Delai
Ketika sedang membuat parit dan melubangi lebih dalam untuk memudahkan kayu tersebut dibelah, terdengar olehnya suara orang mengtung (memberi semangat kepada anjing yang sedang menggonggong, agar terus mengejar mangsanya).
Sementara dia tidak mendengar gonggongan anjing, tiba-tiba muncul seekor tikus besar yang datang ke arahnya dan serta merta dia memukulkan gagang beliung, yaitu sejenis kapak pada tikus yang menghampirinya hingga mati. Seketika itu juga, datanglah semut merah yang besar dalam jumlah banyak dan mengerumuni tikus tersebut. Kemudian Bitwea mengambil bangkai tikus itu dan menaruhnya diatas tanggur kayu perahunya.
Berselang beberapa waktu kemudian, muncul seorang Delai yang berwujud manusia lalu menyapa dan bertanya kepadanya. ”Hai sahabat, adakah engkau melihat seekor babi besar yang dikejar oleh anjing saya lewat disini?”. Lalu Bitwea menjawab. ”Tidak. Saya tidak melihat babi lewat disini”.
Ketika mereka sedang berbincang-bincang, Sang Delai tidak habis pikir, kemana perginya babi besar yang dikejar oleh anjingnya. Tiba-tiba, pandangannya tertuju kepada bangkai tikus yang diletakan diatas tanggur kayu perahu Bitwea. ”Oh sahabat, itu babi yang dikejar oleh anjing saya yang ditaruh diatas tanggur kayu perahu kamu. Jawab Bitwea, ya, memang membunuhnya dengan memukulkan gagang beliung saya dan saya menaruhnya disitu. ”Oh, sungguh kuat betul kamu dapat membunuhnya dengan gagang beliung dan dapat mengangkatnya keatas tanggur. Tolong turunkan babi itu dan kita bagi dua. Tidak usah dibagi untuk saya, silakan diambil semuanya untuk kamu, kata Bitwea, lalu Bitwea mengambil tikus itu dan menurunkannya menggunakan satu tangan ke tanah. Sang Delai pun sangat kagum akan kekuatan Bitwea.
Kemudian tahulah Bitwea, bahwa bangsa Delai, Jin, Iblis berjarak sangat jauh bagi manusia tetapi dekat bagi mereka. Benda yang berat bagi manusia, merrupakan hal yang ringan dan kecil bagi mereka dan sebaliknya juga benda yang ringan dan kecil bagi manusia merupakan hal yang berat bagi mereka.
Sang Delai kemudian bertanya kepada Bitwea, apa yang sedang dia kerjakan dan Bitwea menjawab bahwa dia akan membuat perahu dan sedang membuat parit dan lobang untuk membelahnya.
Atas jasa Bitwea yang telah membunuh tikus yang dianggap sebagai babi besar itu, maka Sang Delai pun membantu membelah kayu perahu Bitwea menjadi dua bagian dengan tangannya. Maka, gantian Bitwea pun sangat kagum dengan kekuatan Sang Delai itu.
c. Sang Delai meminta bantuan Bitwea memerangi Meta’ak /Iblis.
Setelah Sang Delai membelah kayu perahu Bitwea, mereka kemudian berbincang-bincang dan karena telah terjalin hubungan persahabatan diantara mereka serta atas kekaguman Sang Delai akan kehebatan dan kekuatan Bitwea, maka Sang Delai meminta bantuan kepada Bitwea untuk memerangi Meta’ak, musuh mereka yang tinggal pada suatu pohon Nengaq Longm Kung Yung (sejenis pohon rumbia yang tumbuh di hutan) di perbatasan bangsa Delai dan Meta’ak di alam gaib. Karena sudah saling bersahabat, maka Bitwea pun menyatakan kesediaannya untuk membantu sahabatnya itu.
d. Bitwea membantu memerangi Meta’ak
Setelah pembicaraan mereka selesai, Sang Delai pulang dengan membawa bangkai tikus sebagai babi besar menurutnya dan Bitwea menyelesaikan pembuatan perahunya. Ketika selesai, Bitwea membawa perahu tersebut lalu pulang kembali ke kampungya.
Saat tiba waktu yang disepakati bersama untuk memerangi Meta’ak, Sang Delai pun datang untuk menjemput Bitwea lalu mereka berangkat.
Sebagai persyaratan, Bitwea menganjurkan agar disiapkan beberapa hal, antara lain:
1. Seekor Neak Loh (anak babi jantan yang belum dikebiri)
2. Seekor Lung Leheang (ayam jantan merah yang masih muda)
3. 15 buah Teloh Jiep (telur ayam yang baru)
4. Lekoq, Keptiaq (keripit, pinang dan rokok)
5. Has (beras) secukupnya
Setelah semua bahan yang diperlukan telah terkumpul dan siap, merekapun berangkat menuju Nengaq Long Kung Yung yang merupakan perkampungan Meta’ak di alam gaib. Kemudian Bitwea membuat Telkeak yang berjumlah 17 potong, untuk:
1. Lima belas (15) potong untuk tempat telur ayam
2. Satu (1) potong untuk tempat Lung Leheang
3. Satu (1) potong untuk tempat Neak Loh sebagai sesaji kepada para Dewa dan dipasang secara berjajar.
Ketika semuanya selesai sesuai dengan yang diperlukan, maka Bitwea pun Nekeang (doa). Dan dengan memegang Neak Loh, Lung Leheang, Teloh Jieb dan pisau raut di tangan, Bitwea berdiri dan Nekeang, memohon kepada para Yang Kuasa untuk mengalahkan Meta’ak yang merupakan musuh bangsa Delai.
Setelah selesai Nekeang, serta-merta hari menjadi gelap dan terjadi angin ribut yang sangat kencang dan hujanpun turun dengan sangat lebat. Kemudian Nengaq Long Kung Yung pun tumbang dan terjadi kekalahan di pihak Meta’ak. Akhirnya, Sang Delai memenggal kepala Meta’ak, lalu diambil untuk dibawa pulang.
e. Sang Delai mengajarkan Nemlen kepada Bitwea
Kemudian Sang Delai mengajak Bitwea sahabatnya untuk mengikuti Nemlen yang akan dilaksanakan oleh bangsa Delai sebagai rasa syukur dan terima kasih kepada sahabatnya yang telah membantu mengalahkan bangsa Meta’ak, setelah kemenangan. Dan selanjutnya Nemlen tersebut dapat diajarkan kepada bangsa manusia di alam nyata.
Adapun manfaat dari Nemlen, antara lain:
1. Mendewasakan seorang Keslaq (remaja menuju dewasa) secara adat, agar Sang Keslaqdapat hidup sehat, selamat dan panjang umur serta diberkati oleh Para Dewa.
2. Mencegah serangan wabah penyakit dan wabah lainnya yan akan menimpa masyarakat, kampung, ternak dan tanaman.
3. Mencegah musuh yang berniat jahat terhadap masyarakat dan kampung.
4. Menyembuhkan segala macam penyakit yang diderita oleh masyarakat, seperti kudis, demam, lumpuh dan lain-lain, baik sakit yang baru maupun penyakit kronis (menahun), baik akibat perbuatan iblis, setan, manusia maupun sakit akibat sumpah serapah orang terhadap mereka, sakit akibat Nyaho jahat, mimpi buruk dan lain-lain.
5. Mengembalikan kehidupan masyarakat di kampung menjadi rukun, tenteram, damai dan sejahtera.
6. Agar tanaman subur dan menolak / membuang hama tanaman dan sakit bagi ternak.
Setelah selesai mengikuti Nemlen yang dilakukan oleh bangsa Delai, Bitwea pun pamit dan pulang kembali ke kampungnya dan mengjarkan Nemlen kepada bangsa manusia.
Sesampainya di kampung, Bitwea mengadakan Nemlen seperti yang diajarkan oleh Sang Delai, setelah itu terjadi perubahan drastis di kampung Bitwea, antara lain:
1. Semua masyarakat sembuh dari sakit yang diderita
2. Kelahiran manusia bertambah banyak dan jarang terjadi kematian
3. Ternak baertambah banyak dan tanaman menjadi subur dengan hasil yang melimpah
4. Kehidupan di kampung menjadi lebih baik, aman, tenteram dan damai serta masyarakat hidup sejahtera dan makmur.
Melihat manfaat dari Nemlen yang berdampak positif terhadap kehidupan masyarakat, ternak dan tanaman, maka Nemlen dilakukan secara terus-menerus dan diwariskan secara turun-temurun hingga sekarang.
Demikianlah asal mula terjadinya Nemlen yang dilakukan dalam kurun waktu tertentu dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.
2. Pengertian
Nemlen mempunyai pengertian menang atau kemenangan yaitu kemenangan atas tengkorak yang dipakai Nemlen dan kemenangan atas segala yang jahat seperti seperti:
a. Musuh yang berniat jahat
b. Iblis atau setan
c. Wabah penyakit
d. Pengaruh buruk dari mimpi buruk dan nyayoh jahat serta sumpah serapah orang
e. Kemenangan peserta dalam menahan nafsu selama Nemlen berlangsung dan kemenangan atas segala yang jahat, yang dapat merusak kampung dan masyarakat.
3. Tujuan Nemlen
Nemlen mempunyai 2 tujuan yang sangat penting, antara lain:
a. Mendewasakan seseorang Keslaq
Keslaq adalah sebutan kepada remaja atau pemuda yang mulai menginjak dewasa dan sebutan kepada orang yang baru pertama kali mengukuti Nemlen, walaupun sudah dewasa, beristri dan beranak.
Pemuda yang belum mengikuti Nemlen dikiaskan sebagai Teptong Se’op yang berarti bakal hulu mandau.
Seseorang Keslaq yang mulai menginjak dewasa atau yang sudah dewasa dan belum mengikuti Nemlen dianggap belum menjadi dewasa. Dewasa dalam arti memenuhi persyaratan secara adat untuk mengarungi kehidupan dimasa kini dan akan datang dengan penuh rasa tanggung jawab.
Oleh sebab itu, mereka tidak boleh kawin sebelum Nemlen, dan apabila mereka sudah kawin (menikah) sebelum Nemlen, mereka akan dianggap Nlea atau sial, sehingga dalam kehidupan berumah tangga, apabila mereka dikaruniai anak kemudian mengadakan Erau Anak (pesta syukuran), hidangan dalam pesta yang mereka siapkan tidak boleh dimakan oleh orang yang sudah pernah mengikuti Nemlen atau orang yang sudah dewasa, sebab akan mendatangkan sial bagi mereka dalam berusaha dan mencari nafkah.
Untuk memenuhi persyararatan sebagai seorang Keslaq yang dianggap sudah dewasa, mereka harus mengikuti Nemlen, dimana dalam upacara ini, mereka dilatih dan diuji dengan berbagai macam pantangan, diantaranya adalah menahan nafsu dan berpuasa selama Nemlen berlangsung.
Pada masa lalu, Nemlen dilaksankaan selama 12 hari, tetapi pada akhir-akhir ini waktunya dikurangi dan hanya dilaksanakan (berlangsung) selama 6 hari saja.
Dalam mengarungi kehidupan, baik sekarang maupun yang akan datang, para Keslaq yang sudah mengikuti Nemlen, akan dapat mengatasi kesulitan dan rintangan dalam perjalanan hidup mereka dengan tabah dan penuh rasa tanggung jawab, sebab mereka sudah pernah mengalami bagaimana susah dan sulitnya mengikuti Nemlen yang sekaligus merupakan ujian bagi mereka.
Untuk mendewasakan seseorang pemuda (remaja menuju dewasa) menurut adat, adalah dengan mengikuti Nemlen, dan untuk mendewasakan seseorang pemudi (remaja menuju dewasa), mereka harus membuat Tato di kaki, tangan atau jari tangan.
Dalam Nemlen semua peserta harus berpantangan dan pantangan bagi setiap peserta tidak sama (tergantung banyaknya Nemlen yang sudah diikuti), dimana semakin sering seseorang mengikuti Nemlen, semakin ringan pantangannya.
1. Pantangan bagi Keslaq
Dalam rangka pelaksanaan Nemlen, para Keslaq hanya boleh makan nasi yang keras (dimasak dengan air secukupnya) dan tidak boleh:
a) Minum (air putih dan minuman bentuk apapun)
b) Mandi
c) Mengkonsumsi minuman keras
d) Memakai tikar, sarung atau selimut pada waktu tidur siang atau malam hari.
e) Melangkah, memegang dan makan garam serta gula ataupun manisan lainnya. Oleh sebab itu, pada waktu mereka berjalan selalu tunduk mengawasi jalan yang dilalui, kalau-kalau ada kulit tebu (bahan gula/manisan) dijalan.
f) Tidak boleh tidur di rumah selain di Eweang (rumah adat).
g) Tidak boleh tidur atau bersetubuh dengan wanita lain, pacar, ataupun istri sendiri.
Para Keslaq dilarang banyak tidur dan dianjurkan untuk banyak bergerak (beraktifitas), seperti memasak, berjalan, mengambil kayu api, beras dan lainnya. Beras dan kayu api diambil disetiap rumah para Keslaq paling banyak untuk dua kali masak saja.
Tujuannya (para Keslaq harus banyak beraktifitas), adalah supaya otot tidak kaku dan peredaran darah tetap lancar, sehingga para Keslaq tidak mengalami sakit selama prosesi Nemlen berlangsung. ra Keslaq harus mau menjadi pelayan untuk orang yang sudah tua dan sudah lebih dari satu kali mengikuti Nemlen.
2. Pantangan bagi para peserta yang sudah lebih dari sekali Nemlen
Para peserta yang sudah lebih dari sekali Nemlen, untuk hari pertama, kedua dan ketiga, diperbolehkan untuk:
a) Minum
b) Mandi
c) Merokok
d) Makan garam dan gula
e) Makan daging babi yang disembelih pada waktu Nemlen
f) Untuk orang tua yang sudah lanjut usia dan sudah sering mengikuti Nemlen, boleh memakai tikar, sarung dan selimut pada waktu tidur selama prosesi berlangsung
g) Boleh melakukan kesenian Tebeq
Yang tidak diperbolehkan, antara lain:
a) Makan sayur yang ada bumbu atau sayur yang dicampur dengan pucuk-pucukan atau sayuran lain
b) Ikan sungai dan daging kecuali babi yang disembelih pada waktu pesta Nemlen
c) Tidur di rumah selain di Eweang (rumah adat)
d) Tidur atau bersetubuh dengan wanita lain, pacar atau istri sendiri
e) Minum minuman keras
b. Mensejahterakan kampung dan masyarakat
Neakloh (anak babi jantan yang belum dikebiri), Sipjieb (anak ayam), Lung Leheang (ayam jantan merah yang masih muda), telur ayam, keripit, pinang dan rokok, merupakan sesaji yang dipersembahkan kepada para Dewa Penguasa dan Pelindung Kampung serta Roh Leluhur, mohon agar membuang dan menjauhkan dari kampung dan masyarakat serta peserta Nemlen segala bentuk yang jahat, seperti:
1. Musuh yang berniat jahat
2. Wabah penyakit
3. Iblis atau setan
4. Pengaruh buruk dari mimpi buruk dan nyayoh jahat serta sumpah serapah orang
5. Wabah bagi ternak
6. Hama tanaman dan segala bentuk yang jahat yang dapat merusak, mengganggu dan menimpah kampung serta masyarakat, ternak dan tanaman
Kemudian memohon diberikan:
1. Perlindungan
2. Kesembuhan dari sakit yang diderita
3. Kesehatan, keselamatan dan umur panjang
4. Kedamaian dan kesejahteraan
5. Kemudahan dalam mencari nafkah
6. Keturunan yang banyak dan baik-baik bagi peserta dan masyarakat
7. Ternak bertambah banyak
8. Tanah gembur dan tanaman yang subur
9. Kampung dan masyarakat yang makmur
Itulah doa-doa atau permohonan yang dikumandangkan hampir disetiap Sekeang dalam Nemlen.
Catatan:
Apabila mengcopy informasi tersebut, agar dapat menyertakan sumbernya.
Pada tahun 2012, direncanakan untuk dilaksanakan ritual tersebut, yang akan dilaksanakan di Desa Dea Beq, Kecamatan Muara Wehea (biasa orang luar menyebutnya Wahau), Kutai Timur, Kalimantan Timur.

2 komentar:

Chris Ringgi mengatakan...

sumbernya?

Chris Ringgi mengatakan...

Terima kasih telah membantu untuk menyebarkan informasi tentang keberadaan suku dayak wehea yang telah lama hilang gaungnya dan baru muncul kembali sejak tahun 2004/2005 dikarenakan adanya upaya pengkaburan identitas mereka oleh komunitas lainnya. untuk foto2 tentang ritual tersebut dapat diakses di blog saya: nuamuri.blogspot.com, terima kasih,.

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Blogroll

Blogger news

Blogger templates

Copyright © 2012. dayaksite.co.cc - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz