By panesatria | At 18.36 | Label :
Foto
| 0 Comments
Home » All posts
Jumat, 19 Oktober 2012
RITUAL PENDEWASAAN DIRI DALAM TRADISI SUKU DAYAK WEHEA
By panesatria | At 18.28 | Label :
Ritual
| 2 Comments
Disarikan dari buku Nemlen: Sebuah Prosesi Kepala Dari Suku Dayak Wehea
Karya Ledjie Taq - Kepala Adat Wehea Nehas Liah Bing
Upacara adat Nemlen, merupakan tradisi Suku Dayak Wehea di Kecamatan Muara Wehea (Wahau) Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur yang hampir sirna, karena bahan/media ritualnya adalah tengkorak sangat sulit diperoleh disamping karena kurangnya minat masyarakat terhadap upacara ini.
Pada jaman dahulu, Nemlen dilaksanakan lebih kurang 6 tahun sekali, tergantung dengan situasi dan kondisi setempat.
Nemlen harus memakai tengkorak (kepala manusia) yang mati berdarah atau dibunuh dengan senjata seperti senapan, parang, keris, mendau, tombak dan lain-lain.
Satu tengkorak manusia hanya boleh dipakai dalam sekali Nemlen, tetapi pada akhir-akhir ini, atau semenjak dekade 1980-an, satu tengkorak dapat dipakai untuk lebih dari satu kali Nemlen, yaitu tengkorak dibelah (dibagi) menjadi beberapa bagian, dimana sebagian tengkorak yang telah dibagi dipakai untuk Nemlen dan sebagian lain disimpan untuk dipergunakan lagi pada saat pelaksanaan Nemlen berikutnya.
1. Sejarah Nemlen
Berdasarkan sejarahnya, budaya Nemlen berasal dari Delai (Dewa/Guru) yang diajarkan kepada Bitwea, seorang bangsa manusia sejak zaman dahulu dan berlanjut hingga sekarang, walaupun pada saat ini sudah mulai memudar.
a. Membuat perahu
Pada suatu hari, Bitwea pergi ke hutan untuk membuat perahu. dan dia menemukan kayu yang cocok untuk bahan perahu, kemudian dia menebang kayu tersebut. Setelah kayu rebah, dia mulai mengukur panjang kayu yang sesuai dengan keinginannya, lalu memotong bagian pangkal dan ujung kayu tersebut. Kemudian dia mulai memancung atau meruncingkan masing-masing ujungnya sesuai dengan gambaran perahu yang akan dibuat sebelum dibelah menjadi dua bagian.
Setelah semuanya siap, dia mulai membuat lobang atau paritnya dari bagian pangkal sampai ujungnya untuk membelahnya menjadi dua bagian.
b. Perkenalan dengan Delai
Ketika sedang membuat parit dan melubangi lebih dalam untuk memudahkan kayu tersebut dibelah, terdengar olehnya suara orang mengtung (memberi semangat kepada anjing yang sedang menggonggong, agar terus mengejar mangsanya).
Sementara dia tidak mendengar gonggongan anjing, tiba-tiba muncul seekor tikus besar yang datang ke arahnya dan serta merta dia memukulkan gagang beliung, yaitu sejenis kapak pada tikus yang menghampirinya hingga mati. Seketika itu juga, datanglah semut merah yang besar dalam jumlah banyak dan mengerumuni tikus tersebut. Kemudian Bitwea mengambil bangkai tikus itu dan menaruhnya diatas tanggur kayu perahunya.
Berselang beberapa waktu kemudian, muncul seorang Delai yang berwujud manusia lalu menyapa dan bertanya kepadanya. ”Hai sahabat, adakah engkau melihat seekor babi besar yang dikejar oleh anjing saya lewat disini?”. Lalu Bitwea menjawab. ”Tidak. Saya tidak melihat babi lewat disini”.
Ketika mereka sedang berbincang-bincang, Sang Delai tidak habis pikir, kemana perginya babi besar yang dikejar oleh anjingnya. Tiba-tiba, pandangannya tertuju kepada bangkai tikus yang diletakan diatas tanggur kayu perahu Bitwea. ”Oh sahabat, itu babi yang dikejar oleh anjing saya yang ditaruh diatas tanggur kayu perahu kamu. Jawab Bitwea, ya, memang membunuhnya dengan memukulkan gagang beliung saya dan saya menaruhnya disitu. ”Oh, sungguh kuat betul kamu dapat membunuhnya dengan gagang beliung dan dapat mengangkatnya keatas tanggur. Tolong turunkan babi itu dan kita bagi dua. Tidak usah dibagi untuk saya, silakan diambil semuanya untuk kamu, kata Bitwea, lalu Bitwea mengambil tikus itu dan menurunkannya menggunakan satu tangan ke tanah. Sang Delai pun sangat kagum akan kekuatan Bitwea.
Kemudian tahulah Bitwea, bahwa bangsa Delai, Jin, Iblis berjarak sangat jauh bagi manusia tetapi dekat bagi mereka. Benda yang berat bagi manusia, merrupakan hal yang ringan dan kecil bagi mereka dan sebaliknya juga benda yang ringan dan kecil bagi manusia merupakan hal yang berat bagi mereka.
Sang Delai kemudian bertanya kepada Bitwea, apa yang sedang dia kerjakan dan Bitwea menjawab bahwa dia akan membuat perahu dan sedang membuat parit dan lobang untuk membelahnya.
Atas jasa Bitwea yang telah membunuh tikus yang dianggap sebagai babi besar itu, maka Sang Delai pun membantu membelah kayu perahu Bitwea menjadi dua bagian dengan tangannya. Maka, gantian Bitwea pun sangat kagum dengan kekuatan Sang Delai itu.
c. Sang Delai meminta bantuan Bitwea memerangi Meta’ak /Iblis.
Setelah Sang Delai membelah kayu perahu Bitwea, mereka kemudian berbincang-bincang dan karena telah terjalin hubungan persahabatan diantara mereka serta atas kekaguman Sang Delai akan kehebatan dan kekuatan Bitwea, maka Sang Delai meminta bantuan kepada Bitwea untuk memerangi Meta’ak, musuh mereka yang tinggal pada suatu pohon Nengaq Longm Kung Yung (sejenis pohon rumbia yang tumbuh di hutan) di perbatasan bangsa Delai dan Meta’ak di alam gaib. Karena sudah saling bersahabat, maka Bitwea pun menyatakan kesediaannya untuk membantu sahabatnya itu.
d. Bitwea membantu memerangi Meta’ak
Setelah pembicaraan mereka selesai, Sang Delai pulang dengan membawa bangkai tikus sebagai babi besar menurutnya dan Bitwea menyelesaikan pembuatan perahunya. Ketika selesai, Bitwea membawa perahu tersebut lalu pulang kembali ke kampungya.
Saat tiba waktu yang disepakati bersama untuk memerangi Meta’ak, Sang Delai pun datang untuk menjemput Bitwea lalu mereka berangkat.
Sebagai persyaratan, Bitwea menganjurkan agar disiapkan beberapa hal, antara lain:
1. Seekor Neak Loh (anak babi jantan yang belum dikebiri)
2. Seekor Lung Leheang (ayam jantan merah yang masih muda)
3. 15 buah Teloh Jiep (telur ayam yang baru)
4. Lekoq, Keptiaq (keripit, pinang dan rokok)
5. Has (beras) secukupnya
Setelah semua bahan yang diperlukan telah terkumpul dan siap, merekapun berangkat menuju Nengaq Long Kung Yung yang merupakan perkampungan Meta’ak di alam gaib. Kemudian Bitwea membuat Telkeak yang berjumlah 17 potong, untuk:
1. Lima belas (15) potong untuk tempat telur ayam
2. Satu (1) potong untuk tempat Lung Leheang
3. Satu (1) potong untuk tempat Neak Loh sebagai sesaji kepada para Dewa dan dipasang secara berjajar.
Ketika semuanya selesai sesuai dengan yang diperlukan, maka Bitwea pun Nekeang (doa). Dan dengan memegang Neak Loh, Lung Leheang, Teloh Jieb dan pisau raut di tangan, Bitwea berdiri dan Nekeang, memohon kepada para Yang Kuasa untuk mengalahkan Meta’ak yang merupakan musuh bangsa Delai.
Setelah selesai Nekeang, serta-merta hari menjadi gelap dan terjadi angin ribut yang sangat kencang dan hujanpun turun dengan sangat lebat. Kemudian Nengaq Long Kung Yung pun tumbang dan terjadi kekalahan di pihak Meta’ak. Akhirnya, Sang Delai memenggal kepala Meta’ak, lalu diambil untuk dibawa pulang.
e. Sang Delai mengajarkan Nemlen kepada Bitwea
Kemudian Sang Delai mengajak Bitwea sahabatnya untuk mengikuti Nemlen yang akan dilaksanakan oleh bangsa Delai sebagai rasa syukur dan terima kasih kepada sahabatnya yang telah membantu mengalahkan bangsa Meta’ak, setelah kemenangan. Dan selanjutnya Nemlen tersebut dapat diajarkan kepada bangsa manusia di alam nyata.
Adapun manfaat dari Nemlen, antara lain:
1. Mendewasakan seorang Keslaq (remaja menuju dewasa) secara adat, agar Sang Keslaqdapat hidup sehat, selamat dan panjang umur serta diberkati oleh Para Dewa.
2. Mencegah serangan wabah penyakit dan wabah lainnya yan akan menimpa masyarakat, kampung, ternak dan tanaman.
3. Mencegah musuh yang berniat jahat terhadap masyarakat dan kampung.
4. Menyembuhkan segala macam penyakit yang diderita oleh masyarakat, seperti kudis, demam, lumpuh dan lain-lain, baik sakit yang baru maupun penyakit kronis (menahun), baik akibat perbuatan iblis, setan, manusia maupun sakit akibat sumpah serapah orang terhadap mereka, sakit akibat Nyaho jahat, mimpi buruk dan lain-lain.
5. Mengembalikan kehidupan masyarakat di kampung menjadi rukun, tenteram, damai dan sejahtera.
6. Agar tanaman subur dan menolak / membuang hama tanaman dan sakit bagi ternak.
Setelah selesai mengikuti Nemlen yang dilakukan oleh bangsa Delai, Bitwea pun pamit dan pulang kembali ke kampungnya dan mengjarkan Nemlen kepada bangsa manusia.
Sesampainya di kampung, Bitwea mengadakan Nemlen seperti yang diajarkan oleh Sang Delai, setelah itu terjadi perubahan drastis di kampung Bitwea, antara lain:
1. Semua masyarakat sembuh dari sakit yang diderita
2. Kelahiran manusia bertambah banyak dan jarang terjadi kematian
3. Ternak baertambah banyak dan tanaman menjadi subur dengan hasil yang melimpah
4. Kehidupan di kampung menjadi lebih baik, aman, tenteram dan damai serta masyarakat hidup sejahtera dan makmur.
Melihat manfaat dari Nemlen yang berdampak positif terhadap kehidupan masyarakat, ternak dan tanaman, maka Nemlen dilakukan secara terus-menerus dan diwariskan secara turun-temurun hingga sekarang.
Demikianlah asal mula terjadinya Nemlen yang dilakukan dalam kurun waktu tertentu dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.
2. Pengertian
Nemlen mempunyai pengertian menang atau kemenangan yaitu kemenangan atas tengkorak yang dipakai Nemlen dan kemenangan atas segala yang jahat seperti seperti:
a. Musuh yang berniat jahat
b. Iblis atau setan
c. Wabah penyakit
d. Pengaruh buruk dari mimpi buruk dan nyayoh jahat serta sumpah serapah orang
e. Kemenangan peserta dalam menahan nafsu selama Nemlen berlangsung dan kemenangan atas segala yang jahat, yang dapat merusak kampung dan masyarakat.
3. Tujuan Nemlen
Nemlen mempunyai 2 tujuan yang sangat penting, antara lain:
a. Mendewasakan seseorang Keslaq
Keslaq adalah sebutan kepada remaja atau pemuda yang mulai menginjak dewasa dan sebutan kepada orang yang baru pertama kali mengukuti Nemlen, walaupun sudah dewasa, beristri dan beranak.
Pemuda yang belum mengikuti Nemlen dikiaskan sebagai Teptong Se’op yang berarti bakal hulu mandau.
Seseorang Keslaq yang mulai menginjak dewasa atau yang sudah dewasa dan belum mengikuti Nemlen dianggap belum menjadi dewasa. Dewasa dalam arti memenuhi persyaratan secara adat untuk mengarungi kehidupan dimasa kini dan akan datang dengan penuh rasa tanggung jawab.
Oleh sebab itu, mereka tidak boleh kawin sebelum Nemlen, dan apabila mereka sudah kawin (menikah) sebelum Nemlen, mereka akan dianggap Nlea atau sial, sehingga dalam kehidupan berumah tangga, apabila mereka dikaruniai anak kemudian mengadakan Erau Anak (pesta syukuran), hidangan dalam pesta yang mereka siapkan tidak boleh dimakan oleh orang yang sudah pernah mengikuti Nemlen atau orang yang sudah dewasa, sebab akan mendatangkan sial bagi mereka dalam berusaha dan mencari nafkah.
Untuk memenuhi persyararatan sebagai seorang Keslaq yang dianggap sudah dewasa, mereka harus mengikuti Nemlen, dimana dalam upacara ini, mereka dilatih dan diuji dengan berbagai macam pantangan, diantaranya adalah menahan nafsu dan berpuasa selama Nemlen berlangsung.
Pada masa lalu, Nemlen dilaksankaan selama 12 hari, tetapi pada akhir-akhir ini waktunya dikurangi dan hanya dilaksanakan (berlangsung) selama 6 hari saja.
Dalam mengarungi kehidupan, baik sekarang maupun yang akan datang, para Keslaq yang sudah mengikuti Nemlen, akan dapat mengatasi kesulitan dan rintangan dalam perjalanan hidup mereka dengan tabah dan penuh rasa tanggung jawab, sebab mereka sudah pernah mengalami bagaimana susah dan sulitnya mengikuti Nemlen yang sekaligus merupakan ujian bagi mereka.
Untuk mendewasakan seseorang pemuda (remaja menuju dewasa) menurut adat, adalah dengan mengikuti Nemlen, dan untuk mendewasakan seseorang pemudi (remaja menuju dewasa), mereka harus membuat Tato di kaki, tangan atau jari tangan.
Dalam Nemlen semua peserta harus berpantangan dan pantangan bagi setiap peserta tidak sama (tergantung banyaknya Nemlen yang sudah diikuti), dimana semakin sering seseorang mengikuti Nemlen, semakin ringan pantangannya.
1. Pantangan bagi Keslaq
Dalam rangka pelaksanaan Nemlen, para Keslaq hanya boleh makan nasi yang keras (dimasak dengan air secukupnya) dan tidak boleh:
a) Minum (air putih dan minuman bentuk apapun)
b) Mandi
c) Mengkonsumsi minuman keras
d) Memakai tikar, sarung atau selimut pada waktu tidur siang atau malam hari.
e) Melangkah, memegang dan makan garam serta gula ataupun manisan lainnya. Oleh sebab itu, pada waktu mereka berjalan selalu tunduk mengawasi jalan yang dilalui, kalau-kalau ada kulit tebu (bahan gula/manisan) dijalan.
f) Tidak boleh tidur di rumah selain di Eweang (rumah adat).
g) Tidak boleh tidur atau bersetubuh dengan wanita lain, pacar, ataupun istri sendiri.
Para Keslaq dilarang banyak tidur dan dianjurkan untuk banyak bergerak (beraktifitas), seperti memasak, berjalan, mengambil kayu api, beras dan lainnya. Beras dan kayu api diambil disetiap rumah para Keslaq paling banyak untuk dua kali masak saja.
Tujuannya (para Keslaq harus banyak beraktifitas), adalah supaya otot tidak kaku dan peredaran darah tetap lancar, sehingga para Keslaq tidak mengalami sakit selama prosesi Nemlen berlangsung. ra Keslaq harus mau menjadi pelayan untuk orang yang sudah tua dan sudah lebih dari satu kali mengikuti Nemlen.
2. Pantangan bagi para peserta yang sudah lebih dari sekali Nemlen
Para peserta yang sudah lebih dari sekali Nemlen, untuk hari pertama, kedua dan ketiga, diperbolehkan untuk:
a) Minum
b) Mandi
c) Merokok
d) Makan garam dan gula
e) Makan daging babi yang disembelih pada waktu Nemlen
f) Untuk orang tua yang sudah lanjut usia dan sudah sering mengikuti Nemlen, boleh memakai tikar, sarung dan selimut pada waktu tidur selama prosesi berlangsung
g) Boleh melakukan kesenian Tebeq
Yang tidak diperbolehkan, antara lain:
a) Makan sayur yang ada bumbu atau sayur yang dicampur dengan pucuk-pucukan atau sayuran lain
b) Ikan sungai dan daging kecuali babi yang disembelih pada waktu pesta Nemlen
c) Tidur di rumah selain di Eweang (rumah adat)
d) Tidur atau bersetubuh dengan wanita lain, pacar atau istri sendiri
e) Minum minuman keras
b. Mensejahterakan kampung dan masyarakat
Neakloh (anak babi jantan yang belum dikebiri), Sipjieb (anak ayam), Lung Leheang (ayam jantan merah yang masih muda), telur ayam, keripit, pinang dan rokok, merupakan sesaji yang dipersembahkan kepada para Dewa Penguasa dan Pelindung Kampung serta Roh Leluhur, mohon agar membuang dan menjauhkan dari kampung dan masyarakat serta peserta Nemlen segala bentuk yang jahat, seperti:
1. Musuh yang berniat jahat
2. Wabah penyakit
3. Iblis atau setan
4. Pengaruh buruk dari mimpi buruk dan nyayoh jahat serta sumpah serapah orang
5. Wabah bagi ternak
6. Hama tanaman dan segala bentuk yang jahat yang dapat merusak, mengganggu dan menimpah kampung serta masyarakat, ternak dan tanaman
Kemudian memohon diberikan:
1. Perlindungan
2. Kesembuhan dari sakit yang diderita
3. Kesehatan, keselamatan dan umur panjang
4. Kedamaian dan kesejahteraan
5. Kemudahan dalam mencari nafkah
6. Keturunan yang banyak dan baik-baik bagi peserta dan masyarakat
7. Ternak bertambah banyak
8. Tanah gembur dan tanaman yang subur
9. Kampung dan masyarakat yang makmur
Itulah doa-doa atau permohonan yang dikumandangkan hampir disetiap Sekeang dalam Nemlen.
Catatan:
Apabila mengcopy informasi tersebut, agar dapat menyertakan sumbernya.
Pada tahun 2012, direncanakan untuk dilaksanakan ritual tersebut, yang akan dilaksanakan di Desa Dea Beq, Kecamatan Muara Wehea (biasa orang luar menyebutnya Wahau), Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Ritual Suku Dayak Kanayant
By panesatria | At 18.18 | Label :
Ritual
| 0 Comments
Naik Dango Suku Dayak Kanayant Saat Panen Usai
Bunyi gong yang ditabuh terdengar dari speaker di sisi kiri dan kanan betang (rumah panjang) Suku Dayak yang berada di atas bukit Desa Sadaniang, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Pontianak. Dari bawah panggung betang bagian kanan, keluar para penari yang mengenakan baju adat Suku Dayak lengkap dengan atributnya, mengikuti irama gong.
Tanpa alas kaki, penari menggoyangkan tubuhnya dengan indah. Dua angan direntangkan, kemudian jemarinya bergerak memutar dengan entik. Seorang penari pria di barisan depan rombongan penari, mengayunkan Mandau ke depan. Dengan mata menatap tajam, tiba-tiba ia
meloncat dan berteriak "huih" dengan nyaring.
Tarian yang disuguhkan oleh rombongan penari dari 23 Kecamatan di wilayah Kabupaten Pontianak, menjadi daya tarik pengunjung upacara adat Naik Dango ke-26. Mata mereka tak melepaskan sedikitpun gerakan para penari. Sesekali, pengunjung bertepuk tangan dan bergumam "wow" dengan pelan.
Adanya Naik Dango membuat Desa Sadaniang yang semula sepi menjadi ramai. Meski berjarak sekitar 87 kilometer dari Pontianak, acara Naik Dango tersebut mampu menyedot ramai pengunjung yang berasal dari kampung atau kecamatan lain. Panas terik tak menyurutkan langkah pengunjung menapaki jalan tanah merah untuk ikut serta dalam prosesi adat Naik Dango yang sudah menjadi agenda tahunan.
Naik Dango sendiri merupakan upacara adat yang dilakukan oleh Suku Dayak Kanayant yang ada di Kalimantan Barat. Upacara adat ini adalah ucapan syukur kepada Sang Pencipta, atas berkat melimpah yang diberikan. Hasil panen tersebut biasanya disimpan di dango (lumbung) padi, yang sebelumnya didoakan oleh panyangahant (juru doa).
Biasanya, usai menyimpan padi dalam dango yang merupakan padi pilihan untuk dipersiapkan sebagai bibit, suku Dayak akan berpesta. Pesta ini dinamakan makant nasi barahu (makan nasi baru). Setiap rumah akan menyuguhkan makanan hasil panen untuk setiap tamu yang datang. Ini merupakan wujud rasa syukur atas panen dan berbagi rezeki untuk dinikmati bersama.
Naik dango dilaksanakan setiap 27 April. Pelaksanaannya tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak yang ada di kampung-kampung. Namun juga, mereka yang ada di kota dengan jadwal yang berbeda. Penduduk Kota Pontianak dari Suku Dayak melaksanakan naik dango berupa Pekan Gawai. Acara ini dilaksanakan setiap Mei, di Betang Jl. Sutoyo Pontianak.
Sumber http://www.talinews.com
Kamis, 02 Agustus 2012
Ritual Tiwah Ritual Suku Dayak
By panesatria | At 18.09 | Label :
Ritual
| 0 Comments
Ritual Tiwah yaitu prosesi menghantarkan roh leluhur sanak saudara yang telah meninggal dunia ke alam baka dengan cara menyucikan dan memindahkan sisa jasad dari liang kubur menuju sebuah tempat yang bernama sandung.
Ritual Tiwah dijadikan objek wisata karena unik dan khas banyak para wisatawan mancanegara tertarik pada upacara ini yang hanya di lakukan oleh warga Dayak Kalteng. Tiwah merupakan upacara ritual kematian tingkat akhir bagi masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya Dayak Pedalaman penganut agama Kaharingan sebagai agama leluhur warga Dayak.
Upacara Tiwah adalah upacara kematian yang biasanya digelar atas seseorang yang telah meninggal dan dikubur sekian lama hingga yang tersisa dari jenazahnya dipekirakan hanya tinggal tulangnya saja.
Ritual Tiwah bertujuan sebagai ritual untuk meluruskan perjalanan roh atau arwah yang bersangkutan menuju Lewu Tatau (Surga – dalam Bahasa Sangiang) sehingga bisa hidup tentram dan damai di alam Sang Kuasa. Selain itu, Tiwah Suku Dayak Kalteng juga dimaksudkan oleh masyarakat di Kalteng sebagai prosesi suku Dayak untuk melepas Rutas atau kesialan bagi keluarga Almarhum yang ditinggalkan dari pengaruh-pengaruh buruk yang menimpa.
Bagi Suku Dayak, sebuah proses kematian perlu dilanjutkan dengan ritual lanjutan (penyempurnaan) agar tidak mengganggu kenyamanan dan ketentraman orang yang masih hidup. Selanjutnya, Tiwah juga berujuan untuk melepas ikatan status janda atau duda bagi pasangan berkeluarga. Pasca Tiwah, secara adat mereka diperkenakan untuk menentukan pasangan hidup selanjutnya ataupun tetap memilih untuk tidak menikah lagi.
Melaksanakan upacara tiwah bukan pekerjaan mudah. Diperlukan persiapan panjang dan cukup rumit serta pendanaan yang tidak sedikit. Selain itu, rangkaian prosesi tiwah ini sendiri memakan waktu hingga berhari-hari nonstop, bahkan bisa sampai satu bulan lebih lamanya.
Upacara tiwah yang digelar keluarga Ari Dewar, anggota DPRD Kotawaringin (Kotim) ini, misalnya. Mereka menyelenggarakan hingga 30 hari lamanya dan mengeluarkan biaya mencapai hampir satu miliar. Tiwah dilaksanakan untuk almarhum ayahandanya Dewar I A Bajik yang meninggal sekitar 12 tahun silam, sang paman Simon Mantir, serta 21 orang jenazah kerabat mereka yang diikutsertakan dalam upacara yang saat ini masih berjalan.
“Saya dan saudara saya Alfian O Dampa yang menanggung seluruh biaya tiwah ini, sebab tidak semua orang Kaharingan mampu melaksanakan tiwah. Tiwah ini sifatnya wajib dilaksanakan, sebab sebelum orang yang meninggal dunia ditiwah, maka ia belum bisa masuk ke dalam surga. Ini kepercayaan penganut Agama Kaharingan,” terang Ari Dewar.
Tiwah yang diselenggarakan keluarga Ari Dewar di tempat kelahirannya di Desa Rubung Buyung, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotim ini sudah berlangsung sejak minggu kedua Bulan November lalu. Puncaknya pada tanggal 11 Desember 2010 mendatang.
Menurut dia, keluarga yang masih hidup adalah orang yang bertanggung jawab dan berkewajiban mengadakan upacara tiwah. Ritual ini juga sebagai bukti kecintaan mereka terhadap leluhur.
“Siapa lagi yang akan menghantarkan leluhur agar bisa masuk surga kalau bukan keluarga yang masih hidup. Ini menurut ajaran Agama Kaharingan yang dianut almarhum orangtua saya,” kata Ari Dewar yang saat ini sebenarnya tidak lagi menganut kepercayaan Kaharingan, agama leluhurnya.
Dia mengaku telah berkonsultasi dengan para guru agama seperti ustaz dan kiai di Banjarmasin. Setelah diizinkan barulah berani menggelar upacara adat tiwah. Ini bentuk penghormatan terhadap leluhur, termasuk ayahnya. Sebab, tiwah merupakan upacara adat asli suku Dayak, sukunya sejak lahir.
“Ritual ini sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun silam, jadi perlu dilestarikan. Mengangkat kerangka orang yang sudah meninggal kemudian menaruhnya di dalam sandung atau rumah kecil dengan tidak menyentuh tanah,” jelas Ari Dewar.
Osoh T Agan, pisor atau pemimpin ritual tiwah menjelaskan, ritual tiwah merupakan rukun kematian tingkat terakhir yang waktu pelaksanaannya tidak ditentukan. Bisa dilaksanakan kapan saja sesuai kesiapan keluarga yang ditinggalkan.
Sebelum upacara tiwah dilaksanakan, terlebih dahulu digelar ritual lain yang dinamakan upacara tantulak. Menurut kepercayaan Agama Kaharingan, setelah kematian, orang yang meninggal dunia itu belum bisa langsung masuk ke dalam surga. Kemudian digelarlah upacara tantulak untuk mengantar arwah yang meninggal dunia tersebut menuju Bukit Malian, dan di sana menunggu diberangkatkan bertemu dengan Ranying Hattala Langit, Tuhan umat Kaharingan, sampai keluarga yang masih hidup menggelar upacara tiwah.
“Bisa juga dikatakan Bukit Malian itu adalah alam rahim, tempat suci manusia tinggal sebelum lahir ke dunia. Di alam itulah orang yang meninggal dunia menunggu sebelum diberangkatkan menuju surga melalui upacara tiwah,” terang pemuka Agama Kaharingan dari Kota Palangka Raya ini.
Puncak acara tiwah ini sendiri nantinya memasukkan tulang-belulang yang digali dari kubur dan sudah disucikan melalui ritual khusus ke dalam sandung. Namun, sebelumnya lebih dahulu digelar acara penombakan hewan-hewan kurban, kerbau, sapi, dan babi.
Sumber http://prince-news.blogspot.com
Minggu, 01 Juli 2012
Sejarah Suku Dayak
By panesatria | At 08.00 | Label :
Sejarah
| 0 Comments
INILAH SEJARAH DAN ASAL USUL SUKU DAYAK KALIMANTAN
Kata Dayak berasal dari kata "Daya" yang artinya hulu, untuk menyebutkan masyarakat yang tinggal di pedalaman atau perhuluan Kalimantan umumnya dan Kalimantan Barat.
Ada pelbagai pendapat tentang asal-usul orang Dayak, tetapi setakat ini belum ada yang betul-betul memuaskan। Namun, pendapat yang diterima umum menyatakan bahawa orang Dayak ialah salah satu kelompok asli terbesar dan tertua yang mendiami pulau Kalimantan (Tjilik Riwut 1993: 231)। Gagasan tentang penduduk asli ini didasarkan pada teori migrasi penduduk ke Kalimantan। Bertolak dari pendapat itu adalah dipercayai bahawa nenek moyang orang Dayak berasal dari China Selatan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Mikhail Coomans (1987: 3):
Semua suku bangsa Daya termasuk pada kelompok yang bermigrasi secara besar-besaran dari daratan Asia. Suku bangsa Daya merupakan keturunan daripada imigran yang berasal dari wilayah yang kini disebut Yunnan di Cina Selatan. Dari tempat itulah kelompok kecil mengembara melalui Indo China ke jazirah Malaysia yang menjadi loncatan untuk memasuki pulau-pulau di Indonesia, selain itu, mungkin ada kelompok yang memilih batu loncatan lain, yakni melalui Hainan, Taiwan dan Filipina. Perpindahan itu tidak begitu sulit, kerana pada zaman glazial (zaman es) permukaan laut sangat turun (surut), sehingga dengan perahu-perahu kecil sekalipun mereka dapat menyeberangi perairan yang memisahkan pulau-pulau itu.
Orang-orang Dayak ialah penduduk pulau Kalimantan yang sejati, dahulu mereka ini mendiami pulau Kalimantan, baikpun pantai-pantai baikpun sebelah ke darat। Akan tetapi tatkala orang Melayu dari Sumatera dan Tanah Semenanjung Melaka datang ke situ terdesaklah orang Dayak itu lalu mundur, bertambah lama, bertambah jauh ke sebelah darat pulau Kalimantan
Teori tentang migrasi ini sekaligus boleh menjawab persoalan: mengapa suku bangsa Dayak kini mempunyai begitu banyak sifat yang berbeza, sama ada dalam bahasa maupun dalam ciri-ciri budaya mereka
Dewasa ini suku bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, iaitu Kenyah-Kayan-Bahau, Ot Danum, Iban, Murut, Klemantan dan Punan। Keenam rumpun ini terbagi lagi kepada lebih kurang 405 sub suku. Meskipun terbagi kepada ratusan sub suku, kelompok suku Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas। Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu salah suatu sub suku di Kalimantan dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak। Ciri-ciri tersebut ialah rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit beliong (kapak Dayak) pandangan terhadap alam, mata pencarian (sistem perladangan) dan seni tari.
Kalimantan adalah salah satu dari 5 pulau besar yang ada di Indonesia. Sebenarnya pulau ini tidak hanya merupakan "daerah asal" orang Dayak semata karena di sana ada orang Banjar (Kalimantan Selatan) dan orang Melayu. Dan, di kalangan orang Dayak sendiri satu dengan lainnya menumbuh-kembangkan kebudayaan tersendiri. Dengan perkataan lain, kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan oleh Dayak-Iban tidak sama persis dengan kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan Dayak-Punan dan seterusnya. Namun demikian, satu dengan lainnya mengenal atau memiliki senjata khas Dayak yang disebut sebagai mandau. Dalam kehidupan sehari-hari senjata ini tidak lepas dari pemiliknya. Artinya, kemanapun ia pergi mandau selalu dibawanya karena mandau juga berfungsi sebagai simbol seseorang (kehormatan dan jatidiri). Sebagai catatan, dahulu mandau dianggap memiliki unsur magis dan hanya digunakan dalam acara ritual tertentu seperti: perang, pengayauan, perlengkapan tarian adat, dan perlengkapan upacara. Mandau dipercayai memiliki tingkat-tingkat kampuhan atau kesaktian. Kekuatan saktinya itu tidak hanya diperoleh dari proses pembuatannya yang melalui ritual-ritual tertentu, tetapi juga dalam tradisi pengayauan (pemenggalan kepala lawan). Ketika itu (sebelum abad ke-20) semakin banyak orang yang berhasil di-kayau, maka mandau yang digunakannya semakin sakti. Biasanya sebagian rambutnya sebagian digunakan untuk menghias gagangnya. Mereka percaya bahwa orang yang mati karena di-kayau, maka rohnya akan mendiami mandau sehingga mandau tersebut menjadi sakti. Namun, saat ini fungsi mandau sudah berubah, yaitu sebagai benda seni dan budaya, cinderamata, barang koleksi serta senjata untuk berburu, memangkas semak belukar dan bertani.
Bagian Mandau
1. Bilah Mandau
Bilah mandau terbuat dari lempengan besi yang ditempa hingga berbentuk pipih-panjang seperti parang dan berujung runcing (menyerupai paruh yang bagian atasnya berlekuk datar). Salah satu sisi mata bilahnya diasah tajam, sedangkan sisi lainnya dibiarkan sedikit tebal dan tumpul. Ada beberapa jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat mandau, yaitu: besi montallat, besi matikei, dan besi baja yang diambil dari per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan, dan lain sebagainya. Konon, mandau yang paling baik mutunya adalah yang dibuat dari batu gunung yang dilebur khusus sehingga besinya sangat kuat dan tajam serta hiasannya diberi sentuhan emas, perak, atau tembaga. Mandau jenis ini hanya dibuat oleh orang-orang tertentu. Pembuatan bilah mandau diawali dengan membuat bara api di dalam sebuah tungku untuk memuaikan besi. Kayu yang digunakan untuk membuat bara api adalah kayu ulin. Jenis kayu ini dipilih karena dapat menghasilkan panas yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kayu lainnya. Setelah kayu menjadi bara, maka besi yang akan dijadikan bilah mandau ditaruh diatasnya agar memuai. Kemudian, ditempa dengan menggunakan palu. Penempaan dilakukan secara berulang-ulang hingga mendapatkan bentuk bilah mandau yang diinginkan. Setelah bilah terbentuk, tahap selanjutnya adalah membuat hiasan berupa lekukan dan gerigi pada mata mandau serta lubang-lubang pada bilah mandau. Konon, pada zaman dahulu banyaknya lubang pada sebuah mandau mewakili banyaknya korban yang pernah kena tebas mandau tersebut. Cara membuat hiasan sama dengan cara membuat bilah mandau, yaitu memuaikan dan menempanya dengan palu berulang-ulang hingga mendapatkan bentuk yang diinginkan. Setelah itu, barulah bilah mandau dihaluskan dengan menggunakan gerinda.
2. Gagang (Hulu Mandau)
Gagang (hulu mandau) terbuat dari tanduk rusa yang diukir menyerupai kepala burung. Seluruh permukaan gagangnya diukir dengan berbagai motif seperti: kepala naga, paruh burung, pilin, dan kait. Pada ujung gagang ada pula yang diberi hiasan berupa bulu binatang atau rambut manusia. Bentuk dan ukiran pada gagang mandau ini dapat membedakan tempat asal mandau dibuat, suku, serta status sosial pemiliknya.
3. Sarung Mandau.
Sarung mandau (kumpang) biasanya terbuat dari lempengan kayu tipis. Bagian atas dilapisi tulang berbentuk gelang. Bagian tengah dan bawah dililit dengan anyaman rotan sebagai penguat apitan. Sebagai hiasan, biasanya ditempatkan bulu burung baliang, burung tanyaku, manik-manik dan terkadang juga diselipkan jimat. Selain itu, mandau juga dilengkapi dengan sebilah pisau kecil bersarung kulit yang diikat menempel pada sisi sarung dan tali pinggang dari anyaman rotan. Nilai Budaya Pembuatan mandau, jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk-bentuk mandau yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah mandau yang indah dan sarat makna.
Suku Dayak adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan. Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak adalah "Menteng Ueh Mamut", yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur.
ASAL MULA
Pada tahun (1977-1978) saat itu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan "Muller-Schwaner". Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam.
Belum lagi kedatangan orang-orang Bugis, Makasar, dan Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Suku Dayak hidup terpencar-pencar di seluruh wilayah Kalimantan dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Suku ini terdiri atas beberapa suku yang masing-masing memiliki sifat dan perilaku berbeda.
Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut "Nansarunai Usak Jawa", yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608).
Sebagian besar suku Dayak memeluk Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Sebagain lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang Sultan Kesultanan Banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang Dayak (Maanyan atau Ot Danum)
Tidak hanya dari nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam.
Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik.
Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Chang Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci (Sarwoto kertodipoero,1963)
Dibawah ini ada beberapa adat istiadat bagi suku dayak yang masih terpelihara hingga kini, dan dunia supranatural Suku Dayak pada zaman dahulu maupun zaman sekarang yang masih kuat sampai sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, karena pada awal mulanya Suku Dayak berasal dari pedalaman Kalimantan.
Upacara Tiwah
Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia.
Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung).
Dunia Supranatural
Dunia Supranatural bagi Suku Dayak memang sudah sejak jaman dulu merupakan ciri khas kebudayaan Dayak. Karena supranatural ini pula orang luar negeri sana menyebut Dayak sebagai pemakan manusia ( kanibal ). Namun pada kenyataannya Suku Dayak adalah suku yang sangat cinta damai asal mereka tidak di ganggu dan ditindas semena-mena. Kekuatan supranatural Dayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya Manajah Antang. Manajah Antang merupakan cara suku Dayak untuk mencari petunjuk seperti mencari keberadaan musuh yang sulit di temukan dari arwah para leluhur dengan media burung Antang, dimanapun musuh yang di cari pasti akan ditemukan.
Mangkok merah. Mangkok merah merupakan media persatuan Suku Dayak. Mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar. Panglima" atau sering suku Dayak sebut Pangkalima biasanya mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang di edarkan dari kampung ke kampung secara cepat sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa-biasa saja, hanya saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. Percaya atau tidak panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru, senjata tajam dan sebagainya.
Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber Tariu" ( memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu.
Orang-orang yang sudah dirasuki roh para leluhur akan menjadi manusia dan bukan. Sehingga biasanya darah, hati korban yang dibunuh akan dimakan. Jika tidak dalam suasana perang tidak pernah orang Dayak makan manusia. Kepala dipenggal, dikuliti dan di simpan untuk keperluan upacara adat. Meminum darah dan memakan hati itu, maka kekuatan magis akan bertambah. Makin banyak musuh dibunuh maka orang tersebut makin sakti.
Mangkok merah terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus calamus) yang melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang mengatakan bisa diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan kain merah.
Menurut cerita turun-temurun mangkok merah pertama beredar ketika perang melawan Jepang dulu. Lalu terjadi lagi ketika pengusiran orang Tionghoa dari daerah-daerah Dayak pada tahun 1967. pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang antar etnis tetapi lebih banyak muatan politisnya. Sebab saat itu Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia.
Menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan Palangka Bulau" ( Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan Ancak atau Kalangkang" ).
Sumber terselubung.blogspot.com
Senin, 04 Juni 2012
Langganan:
Postingan (Atom)







